Friday, 3 October 2008

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM (1/4)
Muhammad Husain Haekal

Sumber peradaban pertama - Agama Yahudi dan Kristen - Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya - Majusi Persia di jazirah Arab - Jalan-jalan kafilah - Yaman dan peradabannya - Sebabnya Jazirah bertahan pada paganisma.

PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari manapula asal-usulnya, sebenarnya masih ada hubungannya denganzaman kita sekarang ini. Penyelidikan demikian sudah lamamenetapkan, bahwa sumber peradaban itu sejak lebih dari enamribu tahun yang lalu adalah Mesir. Zaman sebelum itudimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itusukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah.Sarjana-sarjana ahli purbakala (arkelogi) kini kembalimengadakan penggalian-penggalian di Irak dan Suria denganmaksud mempelajari soal-soal peradaban Asiria dan Funisiaserta menentukan zaman permulaan daripada kedua macamperadaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masaFiraun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masaitu dan terpengaruh karenanya?

Apapun juga yang telah diperoleh sarjana-sarjana arkelogidalam bidang sejarah itu, samasekali tidak akan mengubahsesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalianbenda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkanhasil yang berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumberperadaban pertama - baik di Mesir, Funisia atau Asiria - adahubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusatyang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunaniatau Rumawi, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidupkita sekarang ini, masih erat sekali hubungannya denganperadaban pertama itu.

Apa yang pernah diperlihatkan oleh Timur Jauh dalampenyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak pernah memberipengaruh yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradabanFira'un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuandan perkembangan peradaban-peradaban tersebut. Hal ini baruterjadi sesudah ada akulturasi dan saling-hubungan denganperadaban Islam. Di sinilah proses salingpengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudahsedemikian rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradabandunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang dan tersebarke pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, diAsiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang lalu, yang sampaisaat ini perkembangannya tetap dikagumi dunia: perkembangandalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang pertanian,perdagangan, peperangan dan dalam segala bidang kegiatanmanusia. Tetapi, semua peradaban itu, sumber danpertumbuhannya, selalu berasal dari agama. Memang benar bahwasumber itu berbeda-beda antara kepercayaan trinitas MesirPurba yang tergambar dalam Osiris, Isis dan Horus, yangmemperlihatkan kesatuan dan penjelmaan hidup kembali dinegerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak,dan antara paganisma Yunani dalam melukiskan kebenaran,kebaikan dan keindahan yang bersumber dan tumbuh darigejala-gejala alam berdasarkan pancaindera; demikian sesudahitu timbul perbedaan-perbedaan yang dengan penggambaransemacam itu dalam pelbagai zaman kemunduran itu telahmengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumbersemua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah dunia,yang begitu kuat pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,sekalipun peradaban demikian hendak mencoba melepaskan diridan melawan sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapatahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam lingkungan masyarakat ini, yang menyandarkanperadabannya sejak ribuan tahun kepada sumber agama, dalamlingkungan itulah dilahirkan para rasul yang membawaagama-agama yang kita kenal sampai saat ini. Di Mesirdilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia dibesarkan dandiasuh, dan di tangan para pendeta dan pemuka-pemuka agamakerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan dan rahasia-rahasiaalam.

Setelah datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umatdi tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: "Akulahtuhanmu yang tertinggi" iapun berhadapan dengan Firaun sendiridan tukang-tukang sihirnya, sehingga akhirnya terpaksa iabersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina.Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allahyang ditiupkan ke dalam diri Mariam. Setelah Tuhan menarikkembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkanagama Nasrani yang dianjurkan Isa itu. Mereka danpengikut-pengikut mereka mengalami bermacam-macampenganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama initersebar, datanglah Maharaja Rumawi yang menguasai duniaketika itu, membawa panji agama Nasrani. Seluruh KerajaanRumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini diMesir, di Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dandari Mesir menyebar pula ke Ethiopia. Sesudah itu selamabeberapa abad kekuasaan agama ini semakin kuat juga. Semuayang berada di bawah panji Kerajaan Rumawi dan yang inginmengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini,berada di bawah panji agama Masehi itu.

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar di bawah panjidan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi diPersia yang mendapat dukungan moril di Timur Jauh dan diIndia. Selama beberapa abad itu Asiria dan Mesir yangmembentang sepanjang Funisia, telah merintangi terjadinyasuatu pertarungan langsung antara kepercayaan dan peradabanBarat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir dan Funisiake dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintanganitu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang sudahberhadap-hadapan muka. Selama beberapa abad berturut-turut,baik Barat maupun Timur, dengan hendak menghormati agamanyamasing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam,kini telah berhadapan dengan rintangan moril, masing-masingmerasa perlu dengan sekuat tenaga berusaha mempertahankankepercayaannya, dan satu sama lain tidak saling mempengaruhikepercayaan atau peradabannya, sekalipun peperangan antaramereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat mengalahkan Rumawidan dapat menguasai Syam dan Mesir dan sudah sampai pula diambang pintu Bizantium, namun tak terpikir oleh raja-rajaPersia akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempatagama Nasrani. Bahkan pihak yang kini berkuasa itu malahanmenghormati kepercayaan orang yang dikuasainya. Rumah-rumahibadat mereka yang sudah hancur akibat perang dibantu pulamembangun kembali dan dibiarkan mereka bebas menjalankanupacara-upacara keagamaannya. Satu-satunya yang diperbuatpihak Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dandibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu bergantiberada di pihak Rumawi Salib itupun diambilnya kembali daritangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat itutetap di Barat dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikianrintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan keduakekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalampada itu pertentangan antara Rumawi dengan Bizantium makinmeruncing. Pihak Rumawi, yang benderanya berkibar di benuaEropa sampai ke Gaul dan Kelt di Inggris selama beberapagenerasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan duniadan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telahmulai surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengankekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yangmenguasai dunia itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialahtatkala pasukan Vandal yang buas itu datang menyerbunya danmengambil kekuasaan pemerintahan di tangannya. Peristiwa initelah menimbulkan bekas yang dalam pada agama Masehi yangtumbuh dalam pangkuan Kerajaan Rumawi. Mereka yang sudahberiman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbananbesar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.

Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman kezaman mazhab-mazhab itu telah terbagi-bagi ke dalamsekta-sekta dan golongan-golongan. Setiap golongan mempunyaipandangan dan dasar-dasar agama sendiri yang bertentangandengan golongan lainnya. Pertentangan-pertentangan antaragolongan-golongan satu sama lain karena perbedaan pandanganitu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawaoleh karena moral dan jiwa yang sudah lemah, sehingga cepatsekali ia berada dalam ketakutan, mudah terlibat dalamfanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, diantara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwaIsa mempunyai jasad disamping bayangan yang tampak padamanusia; ada pula yang mempertautkan secara rohaniah antarajasad dan ruhnya sedemikian rupa sehingga memerlukan khayaldan pikiran yang begitu rumit untuk dapat menggambarkannya;dan disamping itu ada pula yang mau menyembah Mariam,sementara yang lain menolak pendapat bahwa ia tetap perawansesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antara sesama pengikut-pengikut Isaitu adalah peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat danzaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran: soalnya hanyaterbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiapkata dan tiap bilangan itu ditafsirkan pula denganbermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambahdengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal dan hanyadapat dikunyah oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kakusaja.

Salah seorang pendeta gereja berkata: "Seluruh penjuru kotaitu diliputi oleh perdebatan. Orang dapat melihatnya dalampasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang,pedagang makanan. Jika ada orang bermaksud hendak menukarsekeping emas, ia akan terlibat ke dalam suatu perdebatantentang apa yang diciptakan dan apa yang bukan diciptakan.Kalau ada orang hendak menawar harga roti maka akandijawabnya: Bapa lebih besar dari putera dan putera tundukkepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam mandiadakah airnya hangat, maka pelayannya akan segera menjawab:"Putera telah diciptakan dari yang tak ada."

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga iaterpecah-belah kedalam golongan-golongan dan sekta-sekta itudari segi politik tidak begitu besar pengaruhnya terhadapKerajaan Rumawi. Kerajaan itu tetap kuat dan kukuh.Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengantetap adanya semacam pertentangan tapi tidak sampai orangmelibatkan diri kedalam polemik teologi atau sampai memasukipertemuan-pertemuan semacam itu yang pernah diadakan gunamemecahkan sesuatu masalah. Suatu keputusan yang pernahdiambil oleh suatu golongan tidak sampai mengikat golonganyang lain. Dan Kerajaanpun telah pula melindungi semuagolongan itu dan memberi kebebasan kepada mereka mengadakanpolemik, yang sebenarnya telah menambah kuatnya kekuasaanKerajaan dalam bidang administrasi tanpa mengurangipenghormatannya kepada agama. Setiap golongan jadinyabergantung kepada belas kasihan penguasa, bahkan ada dugaanbahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuanpihak yang berkuasa itu.

Sikap saling menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium ituitulah pula yang menyebabkan penyebaran agama Masehi tetapberjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampaike Ethiopia yang merdeka tapi masih dalam lingkunganpersahabatan dengan Rumawi. Dengan demikian ia mempunyaikedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut Merah seperti disekitar Laut Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang kePalestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab Ghassan yangpindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantaiFurat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah daripedalaman sahara yang tandus ke daerah-daerah subur jugademikian, yang selanjutnya mereka tinggal di daerah itubeberapa lama untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan PersiaMajusi.

Dalam pada itu kehidupan Majusi di Persia telah pula mengalamikemunduran seperti agama Masehi dalam Imperium Rumawi. Kalaudalam agama Majusi menyembah api itu merupakan gejala yangpaling menonjol, maka yang berkenaan dengan dewa kebaikan dankejahatan pengikut-pengikutnya telah berpecah-belah jugamenjadi golongan-golongan dan sekta-sekta pula. Tapi disinibukan tempatnya menguraikan semua itu. Sungguhpun begitukekuasaan politik Persia tetap kuat juga. Polemik keagamaantentang lukisan dewa serta adanya pemikiran bebas yangtergambar dibalik lukisan itu, tidaklah mempengaruhinya.Golongan-golongan agama yang berbeda-beda itu semua berlindungdi bawah raja Persia. Dan yang lebih memperkuat pertentanganitu ialah karena memang sengaja digunakan sebagai suatu carasupaya satu dengan yang lain saling berpukulan, atas dasarkekuatiran, bila salah satunya menjadi kuat, maka Raja atausalah satu golongan itu akan memikul akibatnya.

Read more...

[sunting] Kedudukan Hadith Di Dalam Islam

Kedudukan hadith dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat diragukan kerana terdapat penegasan yang banyak di dalam al Quran tentang hadith – di dalam al Quran disebut sebagai al Sunnah – malahan dalam banyak tempat hadith disebutkan selari dengan al Kitab ataupun al Quran. Di dalam al Quran juga disebutkan dengan ketaatan terhadap Rasulullah saw yang disebutkan bersama dengan ketaataan kepada Allah. Ini sebagaimana yang ditegaskan di dalam al Quran di dalam firman Allah seperti ;

Maksudnya ; “Dan taatilah Allah dan RasulNya, jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (surah al Anfāl : ayat 1)

Maksudnya ; “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain bagi urusan mereka” (surah al Ahzāb : ayat 36)

Maksudnya ; “Apa yang diberikan Rasul kepada kamu, maka ambillah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (surah al Hasyr : ayat 7)

Dengan penegasan al Quran di atas, jelaslah bahawa hadith tidak dapat dipisahkan penggunaannya di dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam selari dengan al Quran.

Sesetengah pengarang menyebutkan mengenai 5 fungsi hadith yang utama – dalam sesetengah buku cuma disebut 4 – iaitu ;

# Penguat dan penyokong kepada hukum-hukum yang terdapat di dalam al Quran seperti dalam perkara pengsyariatan sembahyang, puasa dan haji.

# Penghurai dan pentafsir bagi ayat-ayat al Quran yang umum seperti memperjelaskan mengenai cara perlaksanaan sembahyang, kaedah jual beli, menunaikan zakat dan haji dan sebagainya yang mana perkara-perkara tersebut hanya disebutkan secara umum oleh al Quran.

# Menjadi keterangan tasyri’ iaitu menentukan sesuatu hukum yang tiada di dalam al Quran seperti dalam hal memakan haiwan yang ditangkap oleh haiwan pemburu terlatih seperti anjing yang mana buruan tersebut terdapat kesan dimakan oleh haiwan pemburu terlatih tadi dan kesan tersebut menunjukkan haiwan pemburu tadi menangkap buruan untuk dirinya sendiri. di dalam al Quran hanya dibenarkan memakan buruan yang ditangkap oleh haiwan pemburu terlatih. Maka dalam hal ini, hadith menerangkan bahawa buruan yang mempunyai kesan dimakan oleh haiwan pemburu adalah haram dimakan.

# Menasakhkan hukum yang terdapat di dalam al Quran.Sesetengah ahl al Ra’y berpandangan bahawa hadith yang dapat menasakhkan hukum al Quran itu mestilah sekurang-kurangnya bertaraf Mutawatîr, Masyhûr ataupun Mustafhîdh.

# Menerangkan mengenai ayat yang telah dinasakh dan ayat mana yang telah dimansukhkan.

Dalam menentukan fungsi-fungsi bagi hadith ini, para ulama bersepakat dalam menentukan fungsi pertama dan kedua tetapi mereka masih berselisih dalam menentukan fungsi ketiga, keempat dan kelima. Menurut ulama Hanafiyyah, hadith-hadith Mutawatîr dan Masyhûr boleh menasakhkan hukum al Quran manakala Imam Syafie sendiri menolak penasakhan itu.
Di dalam bidang ibadat, hadith memainkan peranannya dalam menghuraikan maksud ayat-ayat al Quran mengenai pengsyariatan sesuatu bentuk ibadat dengan lebih jelas. Tambahan pula, hadith juga memperincikan lagi masalah-masalah yang berhubung dengan pelaksanaan sesuatu ibadat sama ada wajib, sunat, harus, makruh atau haram.

Dalam bidang hukum atau undang-undang, hadith memperincikan hukuman-hukuman dan undang-undang yang terdapat di dalam al Quran seperti hukuman terhadap penzina. Hadith juga berbicara meliputi soal-soal yang berhubung dengan keadilan sosial, ekonomi dan politik. Hadith juga menerangkan mengenai hal-hal mengenai masalah-masalah perseorangan dan kekeluargaan seperti soal nikah, cerai dan talak. Begitu juga kita tidak menemui secara khusus tentang larangan al Quran terhadap amalan rasuah dan menyorok barang dagangan dan perkara-perkara ini diterangkan di dalam hadith.

Mengenai ilmu pengetahuan pula, tidak sedikit ilmu yang boleh kita korek dari hadith bagaikan satu dasar yang tidak diketahui kedalamannya sama ada ilmu sejarah – sejarah penciptaan alam dan bangsa-bangsa terdahulu -, ilmu nasab, ilmu sosiologi, bahasa, sastera, budaya dan banyak lagi. Tambahan pula, hadith juga menggalakkan manusia agar berusaha menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Manakala dalam soal pembentukan akhlak pula, maka sememangnya pengutusan Rasulullah saw itu sendiri adalah untuk membentuk akhlak yang mulia.

Read more...

Hadis

Hadith atau hadis (bahasa Arab: الحديث hadīth mufrad, ahādīth "أحاديث" jamak); adalah tradisi-tradisi berkaitan kata-kata dan perbuatan bagi nabi Muhammad s.a.w.. Koleksi-koleksi hadis dianggap sebagai alat penting untuk menentukan Sunnah, atau cara hidup Islam, oleh semua sekolah-sekolah tradisional perundangan. Hadis dijadikan sumber hukum dalam Islam selain al-Quran, Ijma dan Qiyas.

Ada ramai ulama periwayat hadis, namun yang sering digunakan dalam fiqh Islam ada tujuh iaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i dan Imam Ibnu Majah. Kitab mereka ini dikenali sebagai Sahih al Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan al Tirmizi, Musnad Imam Ahmad, Sunan al Nasa'ie dan Sunan Ibnu Majah.

Read more...

Mengupas Tiga Dalil Syariat

Belakangan ini, ada kecenderungan sebagian umat Islam menjadikan syariat Islam seolah-olah bagaikan obat antibiotik yang dapat menyembuhkan semua penyakit di setiap tempat dan di segala zaman. Mereka berpandangan bahwa syariat Islam itu sempurna sehingga mengatur seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai ibadah, muamalah, sampai sistem pemerintahan.

Klaim kesempurnaan syariat Islam tersebut selalu diulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Implikasinya adalah syariat islam seakan-akan tidak membutuhkan teori atau ilmu non-syariah. Semua problematika ekonomi, politik, sosial, budaya, dan hukum bisa dipecahkan oleh syariat Islam yang telah diturunkan Allah 15 abad yang lampau. Untuk itu, sudah selayaknya dilakukan tinjauan ulang terhadap klaim kesempurnaan syariat Islam.

Tiga Dalil
Klaim kesempurnaan di atas biasanya didasarkan pada tiga dalil.
Pertama, dalam al-Maidah ayat 3, Allah telah menyatakan, "Pada hari ini, telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu."
Kalimat ini sebenarnya hanyalah penggalan ayat yang sebelumnya berbicara mengenai keharaman makanan tertentu dan larangan mengundi nasib serta larangan untuk takut kepada orang kafir. Karena itulah, konteks ayat itu menimbulkan pertanyaan atas kata "sempurna": apakah kesempurnaan itu berkaitan dengan larangan-larangan di atas atau berkaitan dengan keseluruhan syariat Islam?
Dari sudut peristiwa turunnya ayat, potongan ayat di atas turun pada hari Arafah saat Rasulullah Muhammad menunaikan haji. Karena itulah, sebagian ahli tafsir membacanya dalam konteks selesainya aturan Allah mengenai ibadah, mulai salat sampai haji. Sebagian ahli tafsir menganggap potongan ayat ini turun saat fathu Makkah.
Dengan demikian, dikaitkan dengan larangan sebelumnya untuk takut kepada kaum kafir, penggalan ayat "kesempurnaan" tersebut dibaca dengan makna, "Sungguh pada hari ini telah Aku tundukkan musuh-musuh kalian."
Selain itu, sejumlah ulama memandang bahwa kesempurnaan yang dimaksud dalam ayat tersebut terbatas pada aturan halal dan haram. Mereka tidak menganggap bahwa pada hari diturunkannya ayat itu, syariat Islam telah sempurna. Sebab, ternyata setelah ayat tersebut, masih ada ayat Quran lain yang turun, seperti ayat yang berbicara tentang riba dan kalalah.
Kedua, klaim kesempurnaan syariat Islam juga didasarkan pada al-Nahl ayat 89, "Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu." Menurut Mahmud Syaltut, ketika Alquran memperkenalkan dirinya sebagai tibyanan likulli syay’i, bukan maksudnya menegaskan bahwa ia mengandung segala sesuatu, tetapi bahwa dalam Alquran terdapat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. Jadi, cukup tidak berdasar kiranya kalau ayat tersebut diajukan sebagai bukti bahwa syariat Islam mencakup seluruh hal.
Ketiga, dalam al-An’am ayat 38 disebutkan, "Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab." Sejumlah ahli tafsir menjelaskan bahwa Alquran tidak meninggalkan sedikit pun dan atau lengah dalam memberikan keterangan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan-tujuan pokok Alquran, yaitu masalah-masalah akidah, syariah, dan akhlak, bukan sebagai apa yang dimengerti oleh sebagian ulama bahwa ia mencakup segala macam ilmu pengetahuan.
Sebagian ahli tafsir lainnya menganggap kata "al-Kitab" di atas bukan merujuk pada Alquran, tetapi pada lauh al-mahfuz. Dengan demikian, segala sesuatu terdapat di dalam lauh al-mahfuz, bukan di dalam Alquran.
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara umum, Alquran sebagai sumber utama hanya memberikan pokok-pokok masalah syariat, bukan menjelaskan semua hal secara menyeluruh dan sempurna.
Proporsional
Selain tiga dalil di atas yang sering dipahami secara literal dan sepotong-sepotong, kalangan yang mengklaim kesempurnaan syariat Islam juga sering alpa bahwa jumlah ayat hukum dan hadis hukum sangat terbatas. Di antara yang jumlahnya terbatas itu, hanya sedikit yang berkekuatan qath’i al-dalalah. Dan, hanya itulah yang masuk kategori syariat.
Kalau kita buka kitab fikih, hanya sekitar 20 persen yang berisi syariat. Selebihnya merupakan opini, pemahaman, interpretasi, atau penerapan (tathbiq) yang kita sebut dengan fikih. Isi fikih ini jauh lebih luas ketimbang syariat. Disadari atau tidak, ketika syariat Islam diklaim meliputi segala sesuatu, mereka merancukan antara syariat dan fikih.
Sebagai contoh, kewajiban mendirikan negara Islam tidak terdapat dalam ayat hukum dan hadis hukum secara jelas, langsung dan tegas, serta berkekuatan qath’i al-dalalah. Klaim kewajiban itu lahir dari pemahaman ataupun interpretasi yang telah berlangsung sepanjang sejarah Islam. Menolak kewajiban mendirikan negara Islam tidaklah berarti menolak syariat Islam.
Klaim kesempurnaan syariat Islam juga menimbulkan paradoks. Jika benar segala sesuatu telah terdapat dalam syariat Islam, bagaimana kita meletakkan ijtihad dalam masalah tersebut? Ijtihad justru diperlukan karena syariat Islam tidaklah "sempurna". Masih banyak problematika umat yang tidak diatur secara tegas, pasti, dan jelas dalam Alquran dan hadis.
Di sinilah perlunya kreativitas umat untuk memanfaatkan potensi akalnya. Celakanya, banyak kalangan yang tidak bisa membedakan penafsiran para ulama salaf dan khalaf dalam kitab fikih, kitab syarah hadis, dan kitab tafsir dengan kesucian kitab suci. Mereka menganggap bahwa penafsiran dan pemahaman itu juga termasuk kategori syariat yang tidak bisa diutak-atik.
Selama klaim kesempurnaan syariat Islam tidak didudukkan secara proporsional, umat Islam akan cenderung menolak semua ijtihad baru atau semua teori baru. Setiap terobosan baru akan dianggap mengutak-atik ajaran yang sudah sempurna. Kalau sudah sempurna, untuk apa lagi ada pembaharuan? Untuk itu, marilah kita letakkan secara lebih proporsional klaim kesempurnaan syariat Islam tersebut.
Syariat Islam sesungguhnya hanya mengatur hal-hal yang pokok semata (ushuliyah). Dan, selebihnya adalah penafsiran, termasuk penafsiran yang lebih kontekstual, humanis, plural, dan liberal. **
Sumber: Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Read more...

..:: MY LIVE ::..

Thoriqat Qodhiriyah IKHWAN Ahli BAI'AH 30
Simpang Tiga

..:: ABOUT TAZKIRAH ::..



Rahsia hidup kita

"DIRI" ini lah yang menghidupkan jasad selagi ada hayatnya di dunia ini, "DIRI" ini harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita,kerana ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, di dunia dan akhirat, Insyaallah.

Kenal kah "DIRI" tadi kepada Tuhan nya? Sudah tentu kerana dia datang dari sana, dari MAHA pencipta dan MAHA besar.

Banyak lagi persoalan yang akan timbul apabila kita dapat mengenal "DIRI" kita yang sebenar benar "DIRI" ini, kita harus belajar dari "DIRI" ini:

Dia mengetahui kerana dia datang dari yang MAHA mengetahui

Dia bijak kerana datang dari yang MAHA bijaksana

Dia lah sebaik baik Guru dalam kehidupan kita

Kehidupan sebenar ialah di dalam, dan kehidupan dunia ini mendatang kemudian,

..:: AWARD FOR FRIEND ::..

..:: TAZKIRAH FOLLOWERS ::..

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP